Senin, 24 Agustus 2026

Jejak Historis, Tafsir, dan Perdebatan Lokasi dari Tembok Zulkarnain dan Yakjuj Makjuj

Photo Author
Denny Setyawan, RumpiKota.com
- Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:06 WIB
Peta satelit kawasan Kaukasus yang mencakup Georgia, Azerbaijan, dan Derbent (Dagestan). Beberapa lokasi di wilayah ini sering diidentifikasi sebagai kandidat tembok Zulkarnain. (Foto: Google Maps/DS.)
Peta satelit kawasan Kaukasus yang mencakup Georgia, Azerbaijan, dan Derbent (Dagestan). Beberapa lokasi di wilayah ini sering diidentifikasi sebagai kandidat tembok Zulkarnain. (Foto: Google Maps/DS.)

Hadis-hadis ini menegaskan bahwa keluarnya Yakjuj dan Makjuj terjadi menjelang akhir zaman, setelah turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam dan setelah terbunuhnya Dajjal.

Baca Juga: Kiamat Iklim dan Krisis Pangan, Tanda-Tanda Kiamat Menurut Al-Qur'an dan Hadits

Pandangan Mufasir Klasik

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Yakjuj dan Makjuj adalah keturunan Yafits bin Nuh. Mereka digambarkan sebagai bangsa yang sangat banyak dan akan keluar dari tempat terpencil setelah tembok yang dibangun Zulkarnain runtuh. Ibnu Katsir juga membedakan antara Zulkarnain yang disebut Al-Qur’an dengan Iskandar Yunani yang dikenal dalam sejarah umum.

Al-Qurtubi mencatat beberapa pendapat tentang identitas Zulkarnain. Sebagian riwayat menyebutnya sebagai raja yang menguasai wilayah timur dan barat. Ia juga menukil pendapat yang mengaitkan Zulkarnain dengan tokoh yang hidup jauh sebelum Iskandar.

Mayoritas mufasir awal cenderung mengidentifikasi Zulkarnain dengan Alexander the Great. Namun sebagian ulama, termasuk Ibnu Katsir, menekankan perbedaan karakter dan rentang waktu.

Perdebatan Identitas Zulkarnain di Era Modern

Dua kandidat utama yang paling banyak dibahas adalah Alexander the Great (356-323 SM) dan Cyrus the Great (sekitar 600-530 SM).

Pendukung Alexander menekankan luasnya wilayah penaklukan dan julukan “yang bertanduk dua” yang muncul pada beberapa koin kuno. Namun catatan sejarah menunjukkan Alexander sebagai penyembah dewa-dewa Yunani, sehingga sulit diselaraskan dengan gambaran Zulkarnain sebagai raja yang bertauhid.

Pendukung Cyrus the Great menekankan sifat adil dan kebijakan toleransinya. Cyrus membebaskan bangsa Yahudi dari pembuangan di Babilonia dan mengizinkan mereka membangun kembali Bait Suci. Beberapa penafsir modern, termasuk Abul A’la Maududi dan Allameh Tabatabai, menganggap karakter ini lebih sesuai dengan deskripsi Al-Qur’an. Relief bertanduk dua di Pasargadae dan Silinder Cyrus sering dikutip sebagai bukti pendukung.

Tidak ada konsensus mutlak di kalangan ulama dan sejarawan. Banyak peneliti menekankan bahwa Al-Qur’an tidak bermaksud memberikan biografi sejarah lengkap, melainkan menyampaikan kisah yang mengandung pelajaran tentang kekuasaan dan keadilan.

Baca Juga: Kelaparan 3 Tahun Sebelum Kemunculan Dajjal dan Mekanisme Nutrisi Zikir, Muslim Wajib Tahu!

Kandidat Lokasi Tembok

Beberapa lokasi diusulkan sebagai tempat tembok Zulkarnain:

  • Derbent (Dagestan, Rusia) — Benteng dan tembok panjang yang menghubungkan pegunungan Kaukasus dengan Laut Kaspia. Struktur utamanya diperkuat pada masa Sasaniyah abad ke-6 M. Dalam tradisi Islam dan Kristen, tempat ini dikenal sebagai Gerbang Kaspia.
  • Celah Darial (perbatasan Georgia–Rusia) — Jalur sempit di pegunungan Kaukasus dengan dinding batu yang sangat curam. Beberapa sejarawan Muslim klasik seperti Al-Mas’udi dan Yaqut al-Hamawi mengaitkan lokasi ini dengan tembok Zulkarnain.
  • Tembok Besar China — Usulan ini muncul dalam beberapa literatur, tetapi kurang cocok karena arah geografisnya lebih ke timur dan material utamanya batu.
  • Gerbang Besi di Asia Tengah — Beberapa catatan abad pertengahan menyebut kawasan Transoxiana. Bukti arkeologis yang spesifik masih terbatas.

Tidak satu pun lokasi di atas memiliki bukti langsung berupa tembok kuno yang dibangun dari besi dan tembaga cair sesuai deskripsi literal ayat. Sebagian besar struktur yang masih ada menggunakan batu dan bata.

Mengapa Lokasi Masih Diperdebatkan

Al-Qur’an tidak memberikan nama tempat atau koordinat yang dapat diverifikasi secara modern. Banyak tembok pertahanan dibangun di kawasan Kaukasus dan Asia Tengah sepanjang sejarah untuk menahan suku nomaden dari utara. Tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam saling meminjam motif Gog dan Magog, sehingga identitas dan lokasi terus bergeser sesuai konteks zaman.

Penelitian arkeologi modern di Derbent dan Darial menunjukkan bahwa struktur pertahanan di kawasan itu memang sangat tua dan strategis. Namun mencocokkannya secara pasti dengan narasi Al-Kahfi tetap merupakan interpretasi, bukan fakta yang sudah final.

Tabel Ringkas

Aspek Alexander the Great Cyrus the Great Lokasi Tembok Utama
Periode 356-323 SM ±600-530 SM Kaukasus (Derbent/Darial)
Karakter historis Penakluk, politeis Raja adil, toleran Strategis menahan utara
Dukungan klasik Mayoritas mufasir awal Lebih kuat di era modern Tradisi Muslim & Kristen
Kesesuaian teologis Dipersoalkan Lebih diterima banyak ulama Masih diperdebatkan

Kesimpulan

Kisah Zulkarnain dan Yakjuj Makjuj memiliki dua dimensi utama: historis-geografis dan eskatologis. Dimensi historis terus diteliti melalui tafsir, catatan sejarah, dan arkeologi. Dimensi eskatologis ditegaskan oleh hadis-hadis sahih yang menempatkan keluarnya Yakjuj Makjuj sebagai salah satu tanda besar Hari Kiamat.

Halaman:

Editor: Denny Setyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Artikel Terkait

Terkini

X