Minggu, 23 Agustus 2026

Indeks Dolar AS Melemah ke 98,80, Rupiah Menguat ke Kisaran Rp17.685–Rp17.705 per Dolar

Photo Author
Denny Setyawan, RumpiKota.com
- Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:34 WIB
Paspor Indonesia bersama uang kertas dan koin rupiah. Ilustrasi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS seiring pelemahan Indeks Dolar (DXY) pada Agustus 2026. (Foto: Unsplash/Bady Abbas)
Paspor Indonesia bersama uang kertas dan koin rupiah. Ilustrasi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS seiring pelemahan Indeks Dolar (DXY) pada Agustus 2026. (Foto: Unsplash/Bady Abbas)

RumpiKota.com — Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY) ditutup di kisaran 98,80 pada perdagangan 21 Agustus 2026. Level tersebut mencerminkan pelemahan tajam dibandingkan posisi di atas 99,5 pada pertengahan Agustus.

Pelemahan DXY terjadi di tengah ekspektasi pasar yang menurun terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Federal Reserve. Data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan mendorong sentimen tersebut.

Kurs rupiah di pasar spot menguat signifikan. Pada penutupan 21 Agustus 2026, rupiah ditutup di level Rp17.685 hingga Rp17.694 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada 21 Agustus 2026 tercatat Rp17.705 per dolar AS. Posisi ini lebih kuat dibandingkan Rp17.779 pada hari sebelumnya.

Baca Juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,29% di Triwulan II-2026, Konsumsi Domestik Jadi Penopang Utama

Penguatan rupiah sejalan dengan keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur 18–19 Agustus 2026. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,37 persen atau 24,10 poin ke level 6.525,69 pada penutupan perdagangan 21 Agustus 2026. Sepanjang pekan 18–21 Agustus, IHSG mencatat kenaikan 1,93 persen dari level 6.401,89.

Volume transaksi harian rata-rata di Bursa Efek Indonesia meningkat 47,90 persen menjadi 50,30 miliar lembar saham selama periode tersebut. Investor asing mencatat net buy pada sesi terakhir.

Faktor global yang menekan dolar AS mencakup pelemahan data ketenagakerjaan dan inflasi Amerika Serikat. Pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Sentimen de-dolarisasi global juga menjadi salah satu latar belakang pergerakan mata uang. Transaksi non-dolar meningkat di beberapa kawasan, meskipun dampak langsung terhadap DXY masih terbatas.

Baca Juga: Siapkan Masyarakat Hadapi Disrupsi Ekonomi, Bantuin Online Gelar Rangkaian Webinar Konten Kreator

Pelemahan dolar AS memberikan ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah. Aliran modal masuk ke pasar obligasi dan saham domestik mendukung penguatan tersebut.

Yield surat utang pemerintah Indonesia turun pada sejumlah tenor. Yield tenor 10 tahun bergerak ke level terendah dalam dua bulan terakhir seiring penguatan rupiah.

Bank Indonesia mencatat defisit neraca pembayaran Indonesia pada kuartal II-2026 menyusut menjadi 0,9 miliar dolar AS. Surplus transaksi modal dan finansial menjadi penopang utama.

Halaman:

Editor: Denny Setyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X