Minggu, 23 Agustus 2026

Indeks Dolar AS Melemah ke 98,80, Rupiah Menguat ke Kisaran Rp17.685–Rp17.705 per Dolar

Photo Author
Denny Setyawan, RumpiKota.com
- Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:34 WIB
Paspor Indonesia bersama uang kertas dan koin rupiah. Ilustrasi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS seiring pelemahan Indeks Dolar (DXY) pada Agustus 2026. (Foto: Unsplash/Bady Abbas)
Paspor Indonesia bersama uang kertas dan koin rupiah. Ilustrasi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS seiring pelemahan Indeks Dolar (DXY) pada Agustus 2026. (Foto: Unsplash/Bady Abbas)

Pertumbuhan kredit perbankan pada Juli 2026 mencapai 13,58 persen secara tahunan. Rasio kecukupan modal perbankan tetap tinggi di level 23,70 persen.

Analis pasar mencatat penguatan rupiah terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak mentah dunia yang relatif tinggi masih menjadi faktor yang dipantau.

Pergerakan DXY dalam sebulan terakhir menunjukkan penurunan sekitar 2,2–2,3 persen. Level 98,80 menjadi salah satu titik terendah dalam tiga bulan terakhir.

Pasar menanti rilis data ekonomi Amerika Serikat selanjutnya dan pernyataan pejabat The Fed. Arah kebijakan moneter AS tetap menjadi penentu utama pergerakan dolar dalam jangka pendek.

Di dalam negeri, stabilitas rupiah didukung oleh bauran kebijakan Bank Indonesia. Intervensi di pasar valuta asing dan insentif likuiditas terus dioptimalkan.

Penguatan IHSG dan rupiah memberikan sentimen positif bagi pasar modal Indonesia. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia meningkat menjadi sekitar Rp11.449 triliun.

Baca Juga: 11 Pengeluaran yang Bisa Menghancurkan Keuangan Kelas Menengah, tapi Dihindari Orang Kaya!

Pelaku pasar memantau kemungkinan lanjutan pelemahan dolar AS. Jika ekspektasi terhadap The Fed tetap longgar, ruang penguatan rupiah masih terbuka dalam waktu dekat.

Data historis menunjukkan DXY sempat berada di atas 100 pada akhir Juli 2026. Koreksi tajam pada Agustus mencerminkan perubahan cepat dalam persepsi risiko suku bunga AS.

Bank Indonesia menekankan pentingnya menjaga inflasi dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Kebijakan moneter tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pergerakan nilai tukar pada 21–22 Agustus 2026 mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi faktor global dan domestik. Stabilitas makroekonomi Indonesia menjadi penopang utama daya tahan rupiah.

Halaman:

Editor: Denny Setyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X