Sabtu, 15 Agustus 2026

Review Film Kungfu Soccer (2026): Kembalinya Komedi Absurd Stephen Chow di Lapangan Hijau

Photo Author
Yanuar Catur Pamungkas, RumpiKota.com
- Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:59 WIB
Stephen Chow Sutradara Film Kungfu Soccer (2026)
Stephen Chow Sutradara Film Kungfu Soccer (2026)


Lama tak terdengar kiprahnya di industri perfilman, Stephen Chow akhirnya kembali hadir pada tahun 2026 lewat karya terbarunya, Kungfu Soccer. Berbeda dengan proyek-proyek terdahulu, kali ini ia memilih untuk sepenuhnya berada di balik layar sebagai sutradara dan penulis skenario, tanpa tampil sebagai aktor. Meski begitu, sentuhan magisnya tetap terasa kental; alur cerita film ini dipenuhi dengan balutan komedi absurd yang sudah menjadi ciri khas sang legenda.

Perjuangan Skuad Kuda Hitam, Tim Emei

RumpikotaCom - Kungfu Soccer mengangkat kisah perjuangan Tim Sepak Bola Perempuan Emei. Tim ini memiliki misi khusus: mempopulerkan kembali seni bela diri kungfu melalui medium olahraga sepak bola modern. Skuad ini dipimpin oleh Shuangshuang (Zhang Xiaofei), seorang kapten veteran yang juga merangkap jabatan sebagai pelatih. Dalam perjuangannya, ia dibantu oleh sahabat masa kecil sekaligus rekan setimnya, Yulong, serta mentor mereka, Xu Feng. Di tengah berbagai keterbatasan dan keputusasaan, mereka membulatkan tekad untuk berlaga di turnamen bergengsi tingkat Asia, Supreme Invincible Cup.

Dinamika Turnamen: Dari Euforia hingga Terpuruk

Tim Emei datang ke kompetisi dengan komposisi skuad yang cukup timpang, memadukan pemain senior dengan talenta-talenta muda yang masih minim pengalaman. Pada awal keikutsertaannya, mereka kerap menjadi sasaran cemoohan publik. Namun, Emei berhasil membungkam keraguan tersebut lewat kemenangan telak 22-0 di pertandingan perdana. Sayangnya, popularitas instan ini membuat skuad Emei terbuai dan menjadi jemawa. Akibatnya, mereka harus menelan pil pahit berupa kekalahan 0-3 dari Tim Mawar (tim tangguh dengan gaya main ala Korea Selatan).

Fase Kebangkitan dan Partai Puncak

Perjalanan turnamen berlanjut dengan berbagai intrik dan sandiwara yang diarsiteki oleh sang mentor. Mengandalkan rotasi pemain muda, Tim Emei akhirnya berhasil kembali ke jalur kemenangan saat menumbangkan Tim Coral (representasi Australia). Momentum positif ini terus berlanjut hingga mereka kembali berhadapan dengan Tim Mawar di babak semi-final. Pada laga pembalasan ini, Emei sukses membalikkan keadaan dan menyegel tiket ke final.

Di partai puncak, Tim Emei harus menghadapi rintangan terberat mereka: Tim Grand River, sang juara bertahan yang telah mengoleksi trofi Supreme Invincible Cup tujuh kali berturut-turut. Laga final berjalan menegangkan. Tim Emei sempat kewalahan secara taktik di awal pertandingan hingga tertinggal dua gol lebih dulu. Namun, lewat perjuangan tanpa lelah, mereka berhasil mencetak tiga gol balasan epik untuk mengamankan kemenangan dan meraih gelar juara.

Catatan Kritis: Struktur Narasi dan Visual 

Dari sisi penceritaan, film ini menggunakan struktur alur induktif. Latar belakang cerita tidak diekspos secara gamblang di awal film, melainkan dikupas perlahan di pertengahan seiring berjalannya turnamen. Pendekatan naratif ini mungkin akan membuat penonton sedikit kebingungan pada babak pertama untuk meraba arah cerita film ini.

Sementara dari segi pengerjaan visual, Kungfu Soccer sangat mengandalkan efek CGI. Alih-alih banyak melakukan syuting aksi di lapangan hijau secara praktikal, film ini memaksimalkan rekayasa digital demi menghasilkan efek visual "tendangan ajaib" yang hiperbolis.

Secara keseluruhan, Kungfu Soccer menyajikan cerita yang cukup solid. Konsistensi Stephen Chow dalam menampilkan banyak komedi absurd yang tak tertebak menjadi poin plus tersendiri, menjadikan film ini sebagai tontonan yang sangat menghibur.

Editor: Yanuar Catur Pamungkas

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X