Sabtu, 22 Agustus 2026

Ekonomi RI Tumbuh 5,29% di Triwulan II-2026, Konsumsi Domestik Jadi Penopang Utama

Photo Author
Denny Setyawan, RumpiKota.com
- Jumat, 21 Agustus 2026 | 07:48 WIB
Infografis pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2026. Ekonomi tumbuh 5,29 persen (yoy), 3,73 persen (q-to-q), dan 5,45 persen (c-to-c). PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun. (Gambar: BPS/bps.go.id)
Infografis pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan II-2026. Ekonomi tumbuh 5,29 persen (yoy), 3,73 persen (q-to-q), dan 5,45 persen (c-to-c). PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun. (Gambar: BPS/bps.go.id)

RumpiKota.com — Ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen secara year-on-year (yoy), menurut Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis 5 Agustus 2026. Angka ini sedikit lebih rendah dibanding pertumbuhan triwulan I-2026 yang mencapai 5,61 persen, namun tetap berada di atas 5 persen dan lebih tinggi dibanding capaian triwulan II-2025 (5,12 persen).

Secara kuartalan (q-to-q), perekonomian tumbuh 3,73 persen dibanding triwulan sebelumnya. Sementara secara kumulatif semester I-2026, pertumbuhan mencapai 5,45 persen (c-to-c). Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada triwulan II-2026 tercatat Rp6.552,1 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp3.576,2 triliun.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, dalam konferensi pers di Jakarta menjelaskan bahwa pertumbuhan didorong kuat oleh permintaan domestik. “Pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 bila dibandingkan dengan triwulan II tahun 2025 atau secara year on year, tumbuh sebesar 5,29 persen,” ujarnya.

Baca Juga: Dokter Tifa Ajukan Praperadilan Kedua, Uji Sah Tidaknya Penuntutan Kasus Ijazah Jokowi

Konsumsi Domestik Jadi Mesin Utama

Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen tumbuh positif. Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,97 persen (yoy). Bank Indonesia dalam siaran persnya menyebut pertumbuhan ini bersumber dari peningkatan realisasi belanja pegawai (termasuk pembayaran gaji ke-13) serta belanja barang dan jasa terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga tumbuh 5,06 persen dan masih mendominasi struktur PDB dengan kontribusi 53,32 persen. Pembentukan Modal Tetap Bruto (investasi) tumbuh 6,87 persen, sementara ekspor barang dan jasa tumbuh 4,13 persen. Impor sebagai faktor pengurang tumbuh lebih tinggi, yakni 8,82 persen.

Secara sumber pertumbuhan, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terbesar, diikuti investasi dan konsumsi pemerintah.

Baca Juga: Koperasi Pensiunan KSP Mekarsari Gagal Bayar, Ribuan Nasabah Lansia Tuntut Pengembalian Dana

Sektor Produksi Listrik dan Akomodasi Moncer, Pertambangan Kontraksi

Dari sisi lapangan usaha, hampir seluruh sektor tumbuh positif, kecuali Pertambangan dan Penggalian yang terkontraksi 1,64 persen. Pertumbuhan tertinggi dicatat oleh Pengadaan Listrik dan Gas (10,81 persen), diikuti Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (10,60 persen).

Industri Pengolahan sebagai sektor dengan kontribusi terbesar (18,50 persen terhadap PDB) tumbuh 4,52 persen dan menjadi sumber pertumbuhan utama. Perdagangan Besar dan Eceran tumbuh 6,39 persen, sementara Konstruksi tumbuh 6,68 persen.

Pada perbandingan kuartalan (q-to-q), sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan justru mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 12,26 persen, mencerminkan pola musiman panen.

Baca Juga: Pemerintah dan DPR Finalisasi Pengalihan Status Guru PPPK Jadi Pegawai Pusat, Buka Peluang Seleksi PNS 2027

Jawa Masih Dominan, Bali-Nusa Tenggara Tumbuh Tertinggi

Secara spasial, kelompok provinsi di Pulau Jawa tetap mendominasi dengan kontribusi 56,47 persen terhadap PDB nasional dan tumbuh 5,65 persen (yoy). Sumatera menyumbang 22,50 persen dengan pertumbuhan 5,06 persen.

Pertumbuhan tertinggi justru dicatat kelompok Bali dan Nusa Tenggara sebesar 6,10 persen, diikuti Sulawesi (5,53 persen). Kalimantan tumbuh 4,10 persen, sementara Maluku dan Papua mencatat pertumbuhan terendah 1,36 persen.

Halaman:

Editor: Denny Setyawan

Sumber: bps.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X