nasional

Rangkul Lawan Menjadi Kawan : Pelajaran Komunikasi Politik Jokowi menjamu Tim bocor alus tempo di kediamannya

Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:25 WIB
Tim Bocor Alus Tempo Mengunjungi Presiden RI ke 7 Joko Widodo

Tercatat sudah banyak sekali politisi, institusi yang tadinya berseberangan dengan Jokowi Namun Kini berbalik menjadi Pendukungnya. Bahkan Prabowo pun sebelum menjadi Presiden termasuk yang dimaksud, dari lawan menjadi kawan, dari kompetitor pilpres jadi menterinya hingga jadi capres yang didukung penuh

belum lagi cerita-cerita politisi lain yang tak kalah mentereng seperti Prof Yusril Ihza Mahendra, Airlangga Hartarto, Zulkifli Hasan, Bambang Soesatyo dan masih banyak lagi

pun institusi atau ormas pun juga tidak luput dari strategi akomodasi ini. Berbagai elemen masyarakat sipil, kelompok keagamaan, hingga tokoh-tokoh ormas yang sebelumnya kerap memberikan kritik tajam atau berada di barisan oposisi, secara bertahap ditarik ke dalam orbit kekuasaan. Hal ini sering kali dilakukan melalui pemberian posisi strategis, penunjukan sebagai dewan penasihat, atau pelibatan langsung dalam program-program pemerintah.

Langkah Jokowi menjamu tim jurnalis Bocor Alus Tempo—sebuah program siniar jurnalistik yang dikenal sangat tajam dan konsisten menguliti berbagai kebijakan serta manuver Istana—di kediaman pribadinya, menjadi etalase terbaru dari strategi komunikasi politik ini.

Dari kacamata komunikasi politik, pendekatan "merangkul lawan menjadi kawan" ini memberikan beberapa pelajaran penting mengenai bagaimana kekuasaan dikelola dan dipertahankan:

1. Filosofi Menang Tanpa Ngasorake

Jokowi kerap mengadopsi filosofi politik Jawa menang tanpa ngasorake (menang tanpa merendahkan). Alih-alih menghancurkan karier politik lawan yang kalah, ia memberikan ruang kehormatan. Kasus Prabowo Subianto adalah contoh paling monumental. Dengan menjadikan rival utamanya sebagai Menteri Pertahanan, Jokowi tidak hanya menetralisir potensi konflik pasca-pemilu yang sangat polarisasi, tetapi juga mengamankan basis dukungan massa lawan.

2. Manajemen Kesan (Impression Management) yang Paradoks

Menjamu pihak yang selama ini mengkritiknya secara terbuka (seperti tim Tempo) adalah bentuk impression management yang cerdik. Pesan non-verbal yang dikirimkan kepada publik adalah: "Saya tidak anti-kritik, saya terbuka, dan saya mau mendengar." Strategi ini menggeser framing publik dari yang awalnya menganggap pemerintah anti-kritik menjadi melihat pemerintah yang inklusif. Lawan bicara atau pengkritik justru sering kali ditempatkan dalam posisi canggung karena "dibunuh dengan kebaikan" (killed with kindness).

3. Kooptasi sebagai Alat Stabilitas

Dalam ilmu politik, apa yang dilakukan ini disebut sebagai strategi kooptasi—menyerap elemen-elemen penantang ke dalam struktur kekuasaan untuk mencegah ancaman terhadap stabilitas. Dengan membagi-bagikan porsi kekuasaan kepada berbagai faksi politik (Golkar, PAN, Demokrat, hingga tokoh-tokoh independen), Jokowi membangun sebuah koalisi raksasa (big tent coalition). Semakin banyak pihak yang berada di dalam tenda, semakin sedikit yang berada di luar untuk melempar batu.

4. Lunturnya Batas Ideologis Politik

Pendekatan ini menunjukkan bahwa dalam lanskap politik kontemporer Indonesia, batas-batas ideologis sangatlah cair. Komunikasi politik yang dibangun bukanlah berbasis pertarungan ideologi yang kaku, melainkan pragmatisme berbasis kepentingan (interest-based pragmatism). Kawan dan lawan tidak ditentukan oleh kesamaan platform partai, melainkan oleh negosiasi peran dan distribusi kekuasaan.

Secara lebih spesifik, manuver menjamu jurnalis investigatif yang kerap menguliti lingkaran dalam kekuasaan merupakan sebuah orkestrasi tingkat tinggi dalam mengendalikan Agenda Setting. Ketika tokoh utama kekuasaan membuka pintu kediaman pribadinya untuk para pengkritik tajam, ia secara aktif sedang mengintervensi apa yang menjadi fokus perhatian publik (what to think about).

Alih-alih membiarkan media terus menempatkan substansi kritik—seperti skandal kebijakan, manuver politik, atau isu tata kelola—sebagai berita utama, pertemuan tersebut menciptakan sebuah peristiwa baru yang dengan sendirinya sangat bernilai berita (newsworthy). Agenda media tergeser; fokus liputan dan diskursus publik yang tadinya berpusat pada "kebijakan yang bermasalah" terdistraksi menjadi narasi tentang "pertemuan tokoh dan kebesaran hati sang pemimpin yang bersedia duduk bersama lawan diskursusnya."

Mengurai Framing Melalui Empat Fungsi Teks

Manuver ini juga secara radikal mengubah cara media dan publik membingkai (framing) realitas politik. Jika peristiwa ini dibedah menggunakan model analisis Robert Entman, kita bisa melihat bagaimana elemen-elemen realitas tertentu ditonjolkan (dibuat salient) untuk mengarahkan audiens pada interpretasi yang menguntungkan tuan rumah:

  • Mendefinisikan Masalah (Problem Identification): Ketegangan politik atau rentetan kebijakan bermasalah yang disorot oleh media secara halus didefinisikan ulang. Masalahnya bergeser dari "kegagalan struktural kekuasaan" menjadi sekadar "kesumbatan komunikasi" atau "perbedaan persepsi" yang ternyata bisa diurai di meja makan.

  • Memperkirakan Penyebab (Causal Interpretation): Akar konflik antara pemerintah dan elemen kritis dikonstruksi bukan karena adanya penyalahgunaan wewenang secara sistemik, melainkan seolah-olah hanya karena kurangnya ruang dialog dan silaturahmi informal antartokoh.

Halaman:

Tags

Terkini